Laman

Showing posts with label Kimia. Show all posts
Showing posts with label Kimia. Show all posts

27 June 2016

Reaksi unsur-unsur golongan halogen

Bagaimana reaksi unsur-unsur golongan halogen dengan unsur-unsur lainnya, dibawah ini akan diuraikan sedikit tentang reaksi antara unsur-unsur halogen dengan unsur-unsur lainnya, salah satu diantaranya adalah reaksi antara unsur halogen dengan unsur logam dan masih banyak reaksi yang lainnya, silahkan disimak dipostingan kali ini. Anda bisa download filenya dalam bentuk microsoft word.

Reaksi unsur-unsur golongan halogen
1.      Reaksi unsur halogen dengan unsur logam.
Reaksi ini menghasilkan garam dengan sebutan halida logam.
Memiliki rumus reaksi : 2Y + nX2 --> 2YXn
Contoh :    2K(s) + 2Cl2(g) --> 2KCl2(s)
                        2Na(s) + 2Br2(g)  --> 2NaBr2(s)
                        Na(s) + Cl2(g) --> NaCl(s)
                                                2Al(s) + 3Br2(g) -> 2AlBr3(s)
2.      Reaksi unsur halogen dengan hidrogen.
Reaksi ini membentuk asam kuat atau hidrogen halida (kekuatan asam bertambah dari F ke I)
Memiliki rumus reaksi : H2 + X2  -> 2HX
Contoh :    H2 + F2  -> 2HF
H2 + Cl2  -> 2HCl      
H2 + Br2 -> 2HBr
                  H2 + I2 -> 2HI

3.      Reaksi unsur halogen dengan nonlogam dan metaloid, kecuali karbon.
Reaksi ini membentuk senyawa halida. Unsur nonlogam (unsur golongan IV A)  dan metaloid seperti boron (B), silokon (Si), germanium (Ge), arsen (As), antimon (Sb), telurium (Te) dan polonium (Po).
Contoh :     2Cl2(g) + Si(s) -> SiCl4(s)
                             
4.      Reaksi unsur halogen dengan air.
Reaksi ini membentuk asam halida kecuali Br2 dan I2.
Contoh :    F2(g) + H2O(l) à 2HF(aq) +  O2(g) (asam)
                  2F2(g) + 2H2O(l) à 4HF(aq) + O2(g)
                        Cl2(g) + H2O(l) à 2HCl(aq) + O2(g)

5.      Reaksi unsur halogen dengan basa.
Reaksi ini akan menghasilkan garam bersifat basa netral dan hasilnya tergantung pada temperatur saat reaksi berlangsung. (mengalami reaksi disproporsionasi kecuali F2).
Memiliki rumus reaksi :     (1) X2(g) + 2OH-(aq) -> X-(aq) + XO-(aq) + H2O(l)
                                          (2) X2 + 2MOH -> MX + MXO + H2O        
                                          (3) 3X2(g) + 6OH-(aq) ->5X-(aq) + XO3-(aq) + 3H2O(l)
                                          (4) 3X2 + 6MOH- -> 5MX- + MXO3- + 3H2O
Keterangan :
(1)   Dengan basa kuat (MOH) pada suhu 150 C (dingin) halogen (X2) bereaksi membentuk halida (X-) dan hipohalit ( XO-).
(2)   Dengan basa kuat (MOH) pada suhu panas halogen (X2) bereaksi membentuk halida (X-) dan perhalit (XO3-).
Contoh :    Br2(g) + 2OH-(aq) -> Br-(aq) + BrO-(aq) + H2O(l)                  ....(1)
Cl2(g) + 2OH-(aq) -> Cl-(aq) + ClO-(aq) + H2O(l)                  ....(1)
                                    Cl2 + 2NaOH -> NaCl + NaClO + H2O                         ....(2)
3Br2(g) + 6OH-(aq) -> 5Br-(aq)  + BrO3-(aq) + 3H2O(l)     ....(3)
                                    3I2(g) + 6OH-(aq) -> 5I –(aq) + IO3-(aq) + 3H2O(l)           ....(3)
3Br2 + 6KOH -> 5KBr- + KBrO3- + 3H2O                ....(4)

6.      Reaksi unsur halogen dengan halogen.
Reaksi ini membentuk senyawa antarhalogen.
Memiliki rumus reaksi : X2 + nY2 à 2XYn  
Keterangan :
(1)   Y merupakan halogen yang lebih elektronegatif.
(2)   n adalah bilangan ganjil : 1,3,5,7.
      Contoh :     I2 + 3F2 ->2IF3
                        Cl2 + 3F2 -> 2ClF3
                        At2 + 3Br2 -> 2AtBr3
                        F2 + 3Cl2 à->2FCl3

7.      Reaksi unsur halogen pengusiran pada senyawa halogen.
Halogen yang kereaktifannya lebih kuat dapat mengusir atau mendesak halida yang lebih lemah dari senyawanya. kereaktifan F2 >  Cl2  > Br2 >  I2 sehingga :
(1)   F2 dapat mengusir X (Cl2, Br2, I2)
F2 + 2KX -> 2KF + X2
(2)   Cl2 dapat mengusir X (Br2, I2)
Cl2 + 2KX -> 2KCl + X2
(3)   Br2 dapat mengusir X (I2)
Br2 + KX -> 2KBr + X2
(4)   I2 tidak dapat mengusir F2, Cl2 dan Br2
Keterangan : unsur K dapat diganti unsur logam yang lainnya (Na, Ca, Mg dll)
Contoh :    F2 + 2Cl- -> 2F- + Cl2  
                  F2 + 2KCl -> 2KF + Cl2                           

2 May 2016

Mengapa santan dapat menggumpal setelah didinginkan


Mengapa santan dapat menggumpal setelah didinginkan
Sebuah soal yang masih menjadi pertanyaan bagi penulis pada khususnya sampai saat postingan ini dipublikasikan. Oke, disini akan diberikan jawaban berdasarkan pengetahuan saya atas peristiwa tersebut, santan termasuk sistem koloid jenis “Emulsi” dengan fase terdispersi berupa zat cair, sedangkan medium pendispersinya adalah zat cair. Nah, seperti yang kutip dari sebuah buku yang pernah saya baca, salah satu ciri koloid adalah tidak memisah jika didiamkan, lalu bagaimanakah santan bisa menggumpal setelah didinginkan? Salah satu sifat koloid adalah Koagulasi, Koagulasi adalah peristiwa pengendapan dan penggumpalan partikel-pertikel koloid.
Mungkin saja santan dapat mengendap atau menggumpal karena adanya peristiwa koagulasi dengan cara mekanik  (pengadukan, pemanasan dan pendingian) dan disamping itu santan juga memiliki kadar lemak yang cukup tinggi yang mengakibatkan fase terdispersi terpisah dari medium pendispersinya yang disebabkan karena hilangnya kestabilan untuk mempertahankan partikel agar tetap tersebar di medium pendispersinya pada saat pendinginan berlangsung yang mengakibatkan santan itu menggumpal.

Ingat!! Saya masih ragu-ragu dengan jawaban diatas. Melalui postingan ini saya berharap anda dapat memberikan pembenaran atas jawaban diatas jika jawaban tersebut salah, silahkan berikan jawaban anda dikolom komentar baik berdasarkan sudut pandang Biologi, Kimia, Fisika maupun yang lainnya.